Make your own free website on Tripod.com

[Home] [Promosi] [What's New] [Tiga Jurus Memilih Bank Sehat] [Bermain Deposito] [Jangan Tertusuk Duri Bunga] [Logout]

Langkah III
JANGAN SAMPAI TERTUSUK DURI SUKU BUNGA

Bunga tak selalu indah. Apalagi bila tangkainya beduri. Apalagi bunga bank. Meski begitu, toh, kita tetap masih sering terkecoh. Kita kira, bunga itu akan menguntungkan, tapi kemudian malah membuntungkan. Tolong dijelaskan bagaimana caranya supaya tidak kembali tertusuk duri suku bunga. Jangan lupa contohnya sederhana.

Anda seorang eksekutif, pegawai, atau wartawan? Apa pun profesi Anda, rumah dan kendaraan tentu merupakan kebutuhan penting, meskipun sebagian dari Anda sudah memilikinya. Akan tetapi, apakah rumah atau kendaraan yang Anda miliki dibeli tunai? Rasa-rasanya, kebanyakan dari kita jarang membeli rumah atau mobil secara tunai, kecuali Anda termasuk golongan 20% masyarakat Indonesia yang memberi kontribusi terhadap 80% produk domestik bruto alias sangat makmur.

Membeli kendaraan atau rumah secara kredit wajar saja sepanjang jumlah angsuran kreditnya masih tertutup pendapatan. Lazimnya kewajiban membayar kredit tidak boleh melebihi 30% pendapatan kotor. Jadi, bila gaji Anda Rp 5 juta, Anda hanya diperkenankan meminjam dari lembaga keuangan dengan angsuran per bulan maksimum Rp 1,5 juta. Namun, sering kali pola konvensional itu dilanggar. Bahkan, ada yang polanya terbalik menjadi pengeluaran tetap untuk mengangsur utang dapat mencapai 70% dari gaji. Fenomena seperti itu kerap dijumpai, terutama di kalangan menengah, di kota-kota besar.

Tragisnya, saat krisis ekonomi menimpa negara ini, kalangan yang paling menderita adalah yang berutang dalam jumlah besar. Hal ini, dikarenakan krisis ekonomi bukan saja telah menggerogoti pendapatan riil akibat inflasi, melainkan juga beban secara absolut melonjak luar biasa.

Contohnya begini, ketika kondisi normal dengan pendapatan Rp 5 juta sebulan, utang (pokok dan bunga) yang harus diangsur Rp3,5 juta, bila 70% pendapatan dihabiskan untuk membayar utang. Misalkan saja, bunga berlaku 20% per tahun. Ketika krisis ekonomi menerpa, kreditur mengubah suku bunga menjadi 40%, apa yang terjadi? Angsuran yang harus Anda bayar bukannya Rp3,5 juta, melainkan bisa-bisa Rp 5juta. Akibatnya, pendapatan Anda yang tersisa tinggal Rp 0. Jadi, sekali lagi, amatlah berbahaya jika pinjaman Anda melebihi kapasitas normal, yaitu di angsuran maksimum di atas 30% pendapatan.

Kendati meminjam dalam jumlah besar memiliki risiko, aspek yang lebih perlu diperhatikan adalah suku bunga. Anda tentu sering melihat iklan di surat kabar, beberapa dealer kendaraan menawarkan bunga sangat "menantang", misalnya 12% per tahun. Padahal, bunga yang berlaku secara umum sekitar 20%. Sebaiknya, Anda jangan langsung tergiur. Sebab, nilai absolut bunga 12% bisa jadi lebih besar dibandingkan dengan bunga 20% yang ditawarkan di tempat lain.

Dalam terminologi finansial, jenis suku bunga memang bermacam-macam. Beberapa yang populer adalah bunga flat (flat rate) dan effective rate (annuity). Meskipun jumlah pinjaman sama, jika jenis suku bunga yang diterapkan berbeda, hasilnya juga akan sangat berbeda.

Contoh sederhananya begini, Anda mendapatkan pinjaman Rp 100 juta, suku bunganya 10%, dan jangka waktu pelunasannya 3 tahun. Jika suku bunga flat, bunga yang harus Anda bayarkan dihitung dari pagu pinjaman, yakni Rp 100 juta. Itu berlaku hingga pinjaman lunas. Jadi, setiap tahun, Anda harus membayar bunga 10% x Rp100 juta, yakni Rp10 juta. Itu berarti, bunga total yang mesti dibayar dalam tiga tahun itu Rp 30 juta. Pokoknya sendiri diangsur selama tiga tahun atau Rp 33,3 juta per tahun. Dengan kata lain, kewajiban Anda setiap tahun adalah Rp 43,3 juta atau menjadi Rp 130 juta selama tiga tahun.

Jika yang diberlakukan bunga efektif (effective rate), kewajiban bunga yang harus Anda bayar dihitung dari saldo pinjaman. Jadi, bila saldo pinjaman Anda Rp100 juta, bunga yang harus dibayar 10% x Rp100 juta, yaitu Rp 10 juta. Sementara, angsuran pokoknya sebesar Rp 33,3 juta. Pada tahun kedua, angsuran pokok tetap Rp 33,3 juta, tapi bunga yang harus Anda bayar menjadi lebih rendah, yakni 10% x Rp66,7 juta, atau Rp6,67 juta. Demikian juga pada tahun ketiga, kewajiban bunga adalah Rp3,34 juta, yang diperoleh dari 10 % dikalikan sisa (outstanding) pinjaman yang Rp 33,3 juta. Dengan demikian, akumulasi bunga yang Anda bayar adalah Rp 10 juta + Rp 6,67 juta + Rp 3,34 juta = Rp 20 juta. Total pokok ditambah bunga selama tiga tahun menjadi Rp 120 juta. Dengan kata lain, jika menggunakan bunga efektif pada jumlah pinjaman dan jangka waktu sama, kewajiban Anda lebih murah ketimbang penghitungan secara bunga flat.

Prakteknya, tidak ada perusahaan keuangan yang menawarkan bunga flat sama besar dengan bunga efektif. Bila demikian, jelas konsumen akan memilih bunga efektif. Oleh karena itu, biasanya, perusahaan keuangan yang "menjual" kredit menawarkan bunga flat lebih rendah ketimbang bunga efektif.

Pertanyaannya, kapan suku bunga flat lebih menarik dan kapan pula bunga efektif layak menjadi pilihan? Ini dapat dijawab dengan membuat semacam simulasi. Umpamakan, Anda ingin membeli rumah seharga Rp 300 juta. Untuk itu, Anda diwajibkan menyediakan uang muka (dari kantong sendiri) 30% atau Rp 90 juta. Sisanya sebesar Rp 210 juta dibiayai secara kredit. Anda kemudian dihubungkan dengan lembaga keuangan yang bersedia memberikan kredit kepada Anda. Lembaga tersebut dapat bank dan dapat juga nonbank.

Katakan ada dua lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman. PT A menawarkan bunga efektif 20 % per tahun dan jangka waktu 10 tahun. PT B berani memberikan 12% per tahunflat dengan jangka waktu sama. Mana lebih baik? Sepintas, tawaran PT B lebih menggiurkan. Selisihnya mencapai 8%. Bukankah ini cukup menarik? Apa benar demikian? Mari kita hitung.

Pokok pinjaman Anda Rp210 juta dan jangka waktunya 10 tahu atau 120 bulan. Jika memilih tawaran PT B, angsuran pokok per bulan adalah Rp210 juta dibagi 120 bulan = Rp 1,75 juta. Sementara, kewajiban bunga per bulan (12%/12) x Rp 210 juta = Rp2,1 juta. Dengan demikian, kewajiban (pokok dan bunga) yang harus dibayar dalam jangka waktu 10 tahun adalah (Rp1,75 juta x 120) + (Rp2,1 juta x 120) = Rp462 juta.

Penghitungan tsb memperlihatkan, PT B menawarkan bunga lebih tinggi, yakni 20 %. Akan tetapi, karena dihitung efektif berdasarkan saldo atau outstanding pinjaman, jml absolutnya lebih rendah dibandingkan penawaran PT A yg tingkat bunganya flat 12% per tahun. Kesimpulannya, dengan memilih tawaran PT B, Anda dapat menghemat sedikitnya Rp20,9 juta.

Apakah bunga flat selalu merugikan? Tidak. Ada kalanya bunga flat lebih menarik ketimbang bunga efektif. Bunga flat layak dipilih jika jangka waktu pinjaman pendek, mis 3 tahun. Perbedaan tingkat bunga flat dengan bunga efektif juga harus signifikan. Seperti contoh di atas, bunga flat yang diberlakukan adalah 12 %, sementara bunga efektif 20%.

Dg contoh di atas, pokok pinjaman Anda Rp 210 juta dan berjangka waktu 3 tahun atau 36 bulan. Dengan bunga flat 12%, kewajiban bunga per bulan adalah (12%/12) x Rp210 juta =Rp2,1 juta. Selama tiga thn, kewajiban bunga menjadi Rp2,1 juta x 36 =Rp75,6 juta. Sementara, angsuran pokok per bulan adalah Rp210 jut/36 =Rp8,3 juta. Dengan demikian, kewajiban total pokok (pokok dan bunga) yang harus dibayar dalam 3 thn adalah Rp210 juta + Rp75,6 juta = Rp285,6 juta.

Jika menggunakan bunga efektif 20%, pada tahun pertama, bunganya 20% x Rp210 juta, yakniRp42 juta, dan angsuran Rp70 juta. Angsuran total pada tahun pertama menjadi Rp112 juta. Kemudian pada tahun kedua, angsuran pokok, tetap Rp 70 juta. Sedangkan, bunga yang harus dibayarkan dihitung dari saldo pinjaman, yakni 20% x (Rp210 juta - Rp70 juta) = rp28 juta. Demikian juga untuk tahun ketiga, bunga yg dibayar 20% x Rp 70 juta (Rp140 juta - Rp70 juta) = Rp 14 juta. Akhirnya, bunga total yang dibayar dalam tiga tahun adalah Rp42 juta + Rp28 juta + Rp14 juta = Rp 84 juta. Jadi, kewajiban total yg Anda bayar selama 3 tahun adalah Rp294 juta. Dengan kata lain, jika menggunakan bunga efektif pada jml pinjaman sama, jangka waktu tiga tahun, kewajiban Anda menjadi lebih besar Rp 8,4 juta yg didapat dari Rp294 juta - Rp285,6 juta.

Kesimpulannya, jika Anda ingin membeli mobil secara kredit dengan masa pelunasan maksimum 3 tahun,ada baiknya memilih bunga flat.Akan tetapi, jangan lupa, harus ada perbedaaan cukup signifikan antara tingkat bunga efektif dan tingkat bunga flat yang ditawarkan. jika, ingin membeli rumah yg masa pelunasannya 10 thn - 15 thn, pilihan terhadap suku bunga efektif masih lebih baik.

Agar Anda merasa lebih yakin, ada baiknya dibuat simulasi dari kedua jenis bunga tersebut. Selain itu, meskipun Anda berhasil menemukan jenis bunga yg paling sesuai dg keinginan Anda, jangan langsung girang. Ada baiknya Anda cermati pula klausul perjanjian kredit, misalnya mengenai kemungkinan perubahan suku bunga. Jangan sampai, Anda hanya menikmati bunga rendah dalam waktu singkat. Sudah cukup banyak kasus memperlihatkan klausul berbunyi "suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan." adalah trik dagang tersendiri dari beberapa perusahaan keuangan. jadi ,sebelum Anda menjadi konsumen kesekian yang terkecoh, sebaiknya camkan benar prinsip "teliti dulu sebelum membeli"